Menggerakkan Manusia

Posted on Posted in Artikel Public Speaking

Di masa sekarang ini, setiap kita terlibat dalam bisnis “transfer emosi”. Seperti yang kita tahu, manusia memutuskan sesuatu karena perasaan dan berupaya membenarkan dengan pikirannya. Itu artinya, dalam bisnis dan kehidupan, kesuksesan dapat kita raih selama kita dapat menceritakan kisah-kisah yang menarik. Berawal dari ketertarikan itulah, kita mampu mempengaruhi mitra kerja, atasan, pemegang saham, konsumen untuk bertindak sesuai keinginan dan kebutuhan kita.

Mudahnya, saat Anda mampu menceritakan ide Anda, Anda mudah menjualnya. Pelajarilah cara untuk bercerita dengan sebaik mungkin.

Meksiko, teramat jauh dari Tanzania -Afrika Utara, tempat John Akhwari tinggal. Tapi itulah tempat di mana ia pada Oktober 1968, mewakili negaranya di Olimpiade Musim Panas sebagai seorang pelari maraton. Sayangnya, Akhwari jatuh di tengah perlombaan. Dan, itu bukan jatuh yang halus ke rerumputan. Ia jatuh keras di atas beton kasar, melukai kaki kanannya dengan parah, dan lututnya tergeser. Petugas medis tiba dengan cepat dan membalut lukanya. Tetapi, lututnya yang salah tempat, memerlukan perawatan lebih banyak dari yang bisa mereka sediakan di jalanan. Ia perlu pergi ke rumah sakit. Tapi, berkebalikan dengan saran mereka, Akhwari malah berdiri dan mulai berjalan di belakang pelari yang lain.

Karena luka-lukanya yang parah, dia tidak bisa lari dengan kecepatan normalnya. Dengan sebuah kombinasi jogging, tertatih-tatih, dan berjalan, dia bergerak maju. Pada catatan waktu 2 jam 20 menit dan 26 detik, Mamo Walde dari Ethiopia berhasil melewati garis akhir di tempat pertama. Kebanyakan dari peserta yang tersisa, selesai dalam beberapa menit berikutnya. Akhwari, sama sekali tidak terlihat. Ia tidak dekat.

Satu jam kemudian, hanya tersisa beberapa ratus orang dalam stadion Olimpiade. Maraton merupakan acara terakhir hari itu dan matahari sudah tenggelam. Kota Meksiko terasa brutal bagi pelari maraton. Dengan ketinggian lebih dari 7.400 di atas permukaan laut, udaranya memiliki 23% lebih sedikit oksigen dari permukaan laut. Dampaknya, 17 dari 74 pelari gagal menyelesaikan perlombaan hari itu. Akhwari, berdarah dan terluka, bersikeras tidak akan menjadi salah satu dari mereka.

Diikuti oleh seorang polisi pengawal, dan terlihat jelas mengalami rasa sakit yang hebat, Akhwari akhirnya tiba dan terpincang-pincang dalam jalannya memasuki jalur stadion, pembalut yang longgar menggantung dari kakinya. Begitu keramaian yang berkurang bersorak dengan takjub dan tidak percaya, John Stephen Akhwari berhasil masuk ke jalur dan melewati garis akhir dengan catatan waktu 3:25:27, di tempat terakhir. Beberapa pendukung yang tertinggal bergegas masuk ke lapangan, untuk menanyakan kepadanya mengapa dia terus berlari dengan kondisinya. Akhwari menjawab dengan gampang,

“Negara saya tidak mengirim saya 5.000 mil untuk memulai perlombaan ini. Negara saya mengirim saya 5.000 mil untuk menyelesaikannya.”

john akhwari-running-pelariDedikasi Akhwari menjadi inspirasi bagi jutaan orang dan mereka memberinya gelar “Raja Tanpa Mahkota”. Sampai hari ini, ceritanya menjadi legendaris di antara atlet Olimpide dan bahkan dalam cabang olahraga lain.

Omong-omong, keuntungan dari kisah seperti ini saat diceritakan, adalah cerita ini memudahkan kita untuk memeriksa mitra kita yang terluka. Dan dengan halus, mengingatkannya untuk tetap fokus. Gampangnya, tanyakan pertanyaan ini: “Mas bro, bagaimana kabar lututmu?”

* * * *
Selamat menyajikan gagasan terbaik Anda, kali ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *