Modelling Pembicara

Posted on Posted in Artikel Public Speaking, Pelatihan

Kapan terakhir kali, Anda berkesempatan bicara di depan publik?

Bagi beberapa orang, mungkin jawabannya kemarin. Bagi yang lainnya, mungkin dalam sepekan terakhir. Jawaban itu, bisa menjadi tanda atas diijinkannya diri kita memberikan sesuatu pada orang lain. Dan selalu, berlaku kaidah “Yang tidak memiliki sesuatu, tak mampu memberikannya.”

Wajar. Kebun buah mangga hanya bisa memberikan panen mangga. Bukan jeruk, jambu, pisang, dan pepaya. Kecuali, jika Anda menjadi pemilik kebun aneka buah. Atau malah pemilik toko buah-buahan? 🙂

Dalam tujuan memberikan konten yang terbaik pada publik. Dalam niatan meningkatkan cara penyajian saat berbicara di depan orang lain. Dalam memenuhi harapan agar setiap omongan berdampak pada perubahan perilaku positif. Maka, jika memungkinkan seringlah belajar dari pembicara dan-atau pelatih yang lainnya.

Ada banyak kesempatan yang bisa digunakan. TV, radio, seminar, dan pelatihan. Bahkan juga dari ceramah agama. Di luar penguasaan metode dan skill “modelling” yang perlu terus Anda kuasai. Saya temukan, istilah PMI sebagai cara mudah untuk belajar dari orang lain. Di kesempatan berikutnya, kita bisa bahas modelling bagian demi bagian. Saat ini, kita praktikkan rumus PMI ini.

Gampangnya, PMI singkatan dari Plus-Minus-Interest. Saat mulai belajar dari orang lain, kita pasang niat sungguh-sungguh untuk sepenuh hati belajar dari beliau. Menariknya, sambil belajar kita bisa lho lakukan pengamatan dengan tiga bagian tadi. Ambil selembar kertas. Buat tabel dengan tiga bagian: kiri, tengah, dan kanan. Kiri, kolom “Plus”. Tengah, kolom “Minus”. Kanan, “Interest”.

Pertama, Plus. Bagian mana saja yang merupakan keunggulan (kelebihan) seorang narasumber? Dapatkah Anda menemukannya? Jika dapat, tuliskan apa pun temuan Anda.

Kedua, Minus. Apa sesuatu yang menurut Anda, seharusnya tidak beliau lakukan -tapi mungkin karena tidak sengaja- dilakukannya? Atau sebaliknya. Minus bisa diartikan, seseorang tidak melakukan yang seharusnya ia lakukan. Dalam contoh bicara di publik, misalnya seorang pembicara “lupa” mengapresiasi pertanyaan hadirin. Nah, silakan tuliskan temuan Anda dalam hal “minus” ini, di kolom yang tengah.

Ketiga, Interest. Hal-hal yang menurut Anda menarik. Hal yang membuat seorang pembicara memiliki ciri khas. Sesuatu yang belum pernah terpikirkan oleh diri Anda. Boleh jadi dari sisi konten, atau dari sisi penyajian, atau malah dari hal-hal yang manusiawi. Pernah dalam satu kesempatan, seorang pelatih meminta 25 orang peserta untuk memperkenalkan diri. Tiap peserta yang adalah senior dalam profesinya, menyebutkan nama lengkap beserta rekam jejak di bidangnya masing-masing. Bergiliran, hingga tiap orang tuntas “menjual” kredibilitasnya. Setelah itu, dengan akrabnya sang pelatih mengulangi informasi yang diceritakan tiap peserta dengan akurat. Tentu dengan begitu, para peserta merasa dihargai dan suasana pelatihan pun bisa dijalani dengan santai dan terbuka. Nah, sekarang giliran Anda menuliskan apa saja hal menarik dari seorang pembicara!

Rio Purboyo pelatihan

Jika ketiga kolom sudah Anda isi dengan hasil pengamatan. Silakan baca dan cermati satu per satu.

“Di bagian manakah, Anda ingin meneladani?”

Selamat berlatih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *