Trainer Mastery (Part 1)

Posted on Posted in Artikel Public Speaking

Assalamualaikum.

Pagi ini, insyaallah saya mau bagikan tahapan pembelajaran orang dewasa. Ada 5 poin urutannya. Ini penting dan mutlak untuk Trainer kuasai. Kenapa? Agar trainer/fasilitator mampu membawakan aktivitas pelatihan untuk memenuhi tujuan yg dikehendaki.

Sebelum dilanjutkan. Saya pastikan, agar kul-WAg ini ilmiah saya ingin sampaikan bahwa referensinya dari Jean Barbazette dalam bukunya “The Art of Great Training Delivery”. Buku terbitan 2006 ini, sangat bagus sebagai “manual” trainer dalam sesi-sesi TFT. Secara pribadi ada rencana saya bikin buku seperti ini. Semoga bisa terlaksana. Mohon doanya…

Sebenarnya, para trainer sudah akrab dengan model belajar eksperiansial. Ia membantu warga dewasa dengan serangkaian aktivitas yg darinya, peserta belajar sesuatu. Misalnya, simulasi. Nah, kali ini kita akan fokus pada bahasan bagaimana agar trainer/fasilitator dapat memaksimalkan pengalaman belajar itu, untuk memenuhi tujuan yg sudah ia rancang.

Ada 5 langkah yg perlu trainer lakoni, saat menjalankan sesi pelatihan. Urutan ini, sebaiknya kita jalankan sebagai prosedur yg runut karena di dalam prosesnya sudah menyesuaikan dengan andragogi. Andragogi, seperti yg kita pahami, adalah cara belajar warga dewasa.

Sambil Anda membaca tulisan ini, boleh Anda munculkan kembali ingatan saat Anda hadiri sebuah sesi pelatihan. Mungkin Anda menjadi peserta, atau menjadi panitianya, atau malah sebagai trainer. Yg manapun peran yg sedang Anda jalani, gunakan pengalaman itu sebagai bahan belajar.

Sementara mempelajari 5 langkah ini, Anda bisa mulai mencocokkannya dengan pengalaman yg sedang Anda ingat-ingat.
Di bagian mana yg perlu Anda perhatikan: Adakah persamaannya? Adakah perbedaannya?

Dari kedua hal itu (kesamaan dan perbedaan), manakah menurut Anda kegiatan pelatihan yg sekiranya berjalan lebih efektif. Efektif, artinya membantu peserta memenuhi tujuan pelatihan.

Efektif, berarti peserta menemukan “insight” yg sengaja kita tanam agar ia sadari sendiri.

Efektif, berarti ia mampu melakukan sesuatu untuk pekerjaan (hidupnya) berbekal pelatihan yg ia jalani.

Jadi, sebelum mulai mengenali kelima langkah berikut, saya camkan agar Anda memasang niat untuk menggunakan ilmu ini sebagai standar penggunaan dan penilaian bagi efektivitas pelatihan kita.

Silakan hafalkan kelima langkah ini.

1. Set Up
2. Play
3. Share
4. Identify
5. Apply

Yuk, kita pelajari satu per satu, 5 langkah pembelajaran aktif bagi orang dewasa.

1. Set Up

Trainer membangun pondasi pelatihan dengan menjelaskan tiga hal: apa, kenapa, dan bagaimana.

Mulailah pondasi pelatihan dengan mengomunikasikan secara jelas ke peserta, agar mereka segera mengerti apa sih persisnya yg mereka akan lakukan (misal, membaca sebuah studi kasus dan setiap orang harus menyiapkan jawaban untuk diskusi lanjutan) dan kenapa mereka melakukan hal itu (untuk mempelajari cara memberikan umpan-balik suatu kinerja).

Pembelajar dewasa makin semangat belajar, saat ia pahami manfaat yg ia peroleh dari pelajari hal baru, atau karena ia pahami ada tujuan penting yg ia sasar.

Agar partisipan mengerti bagaimana suatu tujuan dapat ia raih, trainer wajib memberi Arahan dan aturan-main bagaimana pelatihan berjalan.

Membangun pondasi pelatihan dapat meliputi hal-hal berikut:

*) Bilang ke partisipan tujuan dari aktivitas pelatihan dan kenapa mereka perlu belajar dari aktivitas itu, tanpa perlu ngomong secara terus terang dan terbuka –apalagi kasih petunjuk– poin pembelajaran yg dapat partisipan petik.

*) Menjelaskan apa saja (aktivitas, peran) yg partisipan akan lakukan.

*) Mengulang sekilas (review) arahan tertulis dan menjawab pertanyaan seputar kegiatan.

*) Membagi partisipan dalam grup kecil, atau kasih penjelasan mengenai durasi waktu untuk keperluan diskusi.

*) “Memerintah”-kan tiap grup agar tersedia anggota yg berperan sebagai pencatat, juru bicara, dan pemimpin diskusi.

*) Menjelaskan aturan dasar tentang “cara bermain”.

Ok ya, itu untuk langkah 1. Bisa kita teruskan? 🙂
Kita masuk ke langkah berikutnya.

2. Play

Peserta terlibat dalam aktivitas belajar.

Agar aktivitas belajar sukses, libatkan peserta semaksimal mungkin. Pertimbangkan bagaimana Anda dapat berikan pengalaman belajar yg mengakomodir berbagai cara belajar peserta. Di tahapan ini, bisa terjadi kegiatan membaca studi kasus untuk tiap peserta, menyimak informasi berkenaan simulasi yg ada. Bisa juga, menulis beberapa pertanyaan untuk bahan diskusi grup lainnya, meminta tanggapan dari jawaban mengemuka.

Keterlibatan menjadi kata kunci di langkah ini. Pastikan ada keterlibatan inderawi, juga perilaku. Ingat, warga dewasa lebih cepat belajar dari pengalaman nyata daripada teori yg sudah terbukti -meskipun kedua hal itu sama-sama relevan bagi dirinya.

Catatan penting dalam langkah ini, sependek dan sedangkal yg saya alami:

1. Pastikan aturan dasar dan cara bermain jelas, dan sudah peserta pahami. Jika perlu lakukan pengecekan, sambil tes pemahaman peserta atas cara bermain. Jangan buru-buru “memainkan” kegiatan jika aturan main belum jelas. Orang dewasa itu, dalam bermain pun untuk memenuhi tujuan tertentu. Bahkan termasuk “hanya senang-senang” sekali pun. Sampaikan hal itu sejak awal.

2. Jika Anda pernah ikuti pelatihan sebagai peserta, lalu ada berpikir “Wah cocok nih, kegiatan ini kupakai di pelatihanku yg -ini-.” Boleh saja punya ide seperti itu. Saran saya, begini, pertimbangkan aspek relevansi, kecocokan, dan kedekatannya dalam memenuhi tujuan pelatihan. Tiga hal itu yg selalu saya gunakan sebagai filter: apakah relevan, apakah cocok, apakah sesuai dengan tujuan.

3. Durasi, durasi, durasi. Di luar pilihan metode pelatihan yg beragam, trainer harus memperhatikan aspek efektivitas dari alokasi waktu yg ia gunakan. Sebagai penganut madzhab efektivitas, keterlibatan peserta harus dipastikan membantu mereka menuju ke hasil pelatihan yg sudah dirancang. Ada pun suasana heboh, ramai, dan hingar bingar, bukanlah satu kemestian. Suasana itu dibutuhkan, dalam porsi seperlunya. Ia kita fungsikan sebagai stimulan inderawi, untuk memunculkan perilaku tertentu.

Jadi, perhatikan durasi kegiatan dan efektivitasnya.

Gimana, teman-teman? Sampai di sini, “Ada sesuatu yg Anda temukan?”

Mungkin, “Ada hal baru yg muncul di pikiran Anda?”

Atau, “Perasaan, ada yg beda deh dari yg sebelumnya kupelajari, apa ya?”

Untuk sementara, kita cukupkan sampai bagian ini. Berhenti di langkah kedua, dari 5 langkah “Experiential Learning”.

Sebelumnya, kita sudah pelajari 2 dari 5 langkah aktivitas belajar dari pengalaman.

Istilah kerennya, “Experiential Learning”. Yg pertama, “Set Up” alias bangun pondasi. Yg kedua, “Play” alias keterlibatan peserta dalam pelatihan aktif.

Yg selanjutnya ini, kita masuki langkah ketiga. Yakni, “Share”.

3. Share

Peserta membagikan pemaknaan atas apa yg terjadi.

Tahapan ini sangat penting, untuk membantu peserta yg berada di grup kecil berdiskusi dan memberi kesempatan bagi mereka menentukan apa saja hal penting yg terjadi selama langkah kedua.

Berikan pertanyaan tambahan di tiap grup, sebagai alat bantu mereka berdiskusi, lalu ijinkan mereka mengembangkan pemaknaan lanjutan atas respon mereka dalam aktivitas tahap kedua.

Biarkan peserta saling membagikan pengalamannya, berdasarkan apa yg mereka maknai dari pengalaman yg terjadi pada diri dan koleganya, termasuk berikan peluang untuk menandai adanya perbedaan perilaku satu orang dengan yg lainnya pada satu momen kejadian tertentu.

Berikut ini contoh pertanyaan yg dapat trainer lontarkan:

*) Apa yg membuat jadi mudah atau jadi sulit, untuk menemukan solusi atas masalah ini?

*) Faktor apa saja yg membantu atau yg menghambat proses diskusi?

*) Yuk, Anda bikin ringkasan dari studi kasus barusan.

Kadang, sangatlah tepat jika Anda perintahkan tiap peserta untuk menuliskan respon atas pengalaman belajarnya, agar ia tidak terpengaruh oleh ide atau ucapan peserta lainnya, sebelum ia mulai menceritakan responnya di grup masing-masing. Dengan cara seperti ini, catatan reaksi muncul dari peserta, bukannya dari fasilitator. Membagikan respon atas pembelajaran, adalah langkah awal untuk meraih simpulan. Jika peserta tidak ambil bagian dalam tahapan ini, sulit untuk mengakhiri kegiatan dan berpindah ke aktivitas selanjutnya, karena masih ada “unfinished business” (tahapan yg ndak tuntas) yg menyebabkan ganjalan dalam aktivitas berikutnya.

Saya ingin kasih beberapa catatan penting, untuk langkah ketiga ini.

1. Iklim belajar sangat penting. Karena itu, trainer perlu menciptakan suasana dan kondisi, di mana tiap orang boleh melakukan keslahan dalam rangka belajar. Perlu juga, trainer mengomongkannya secara terbuka dan apa adanya.

Secara pribadi, saya sengaja melakukannya di kelas pelatihan. Bisa dengan menggerakkan bahasa tubuh secara berlebihan. Bisa dengan bicara pakai kosa kata yg ndak selaras. Ide dasarnya, berikan penanda bagi suatu keslahan yg kita sengaja. Untuk apa? Agar peserta berani lakukan keslahan dalam “laboratorium” belajar, ini untuk tujuan yg pertama. Yg kedua, untuk menunjukkan bahwa salah dalam kerangka dan perjalanan belajar adalah hal yg wajar, dan itu ndak masalah, boleh-boleh saja. Tentu dengan maksud dan porsi yg sesuai.

Tapi, kalo Anda -sebagai trainer- ndak siap dengan resikonya, jangan coba-coba Anda kerjakan. Resiko pertama, biasanya berdampak pada “rapor penilaian”. Bisa-bisa Anda diberi nilai jelek oleh peserta. Resiko yg kedua,
keslahan Anda ditiru dan dibawa terus oleh peserta. Kesalahan kedua ini, yg fatal.

Oleh karena itu, pastikan Anda bilang ke peserta bahwa ada perilaku tertentu yg sengaja Anda contohkan, sebagai bagian dari pembelajaran. Pastikan juga, agar peserta memahami dan berjanji untuk tidak melakukan hal itu di kesempatan lain.

2. Jadilah pendengar yg baik dan ajukan pertanyaan yg tepat. Ya, kalo ini sih kemampuan dasar fasilitator.

Selain menjamin suasana yg aman dari resiko berbuat salah, trainer wajib menjadi “coach” yg efektif. Sengaja diberi tanda petik (“__”) karena yg sedang terjadi bukanlah sesi coaching secara formal, melainkan kita sebagai trainer menggunakan kemampuan coaching dalam langkah ketiga ini.

Dengarkan, simak dengan baik-baik. Dengarkan pada level kompetensi mendengarkan, minimal level 3 dari 4 level yg ada. Ajukan pertanyaan yg sesuai, dengan cara komunikasi yg tepat.

Secara teknis memang ada pelatihan khusus, untuk melatih kedua kompetensi ini. Mendengarkan dan bertanya. Sekarang bukan saatnya, karena harus kita latih dengan tatap muka bukan lewat grup WA seperti saat ini.

Catatan penting selanjutnya…

3. Jangan batasi berbagi ide terjadi hanya satu arah. Bisa dua arah, bahkan tiga arah. Tidak hanya dari satu orang ke peserta lainnya. Bisa juga dua orang saling berbagi idenya. Bisa juga dengan gunakan teknologi.

Misalnya, satu orang (kelompok) peragakan ide (hasil catatan respon) lewat tulisan pendek, atau kumpulan pointer dengan slide, atau mind-mapping. Yg ekstrim sih pernah terjadi, pakai pantomim, hehehe. Yg penting, Anda perhatikan efektivitasnya.

Kenapa tidak Anda berani menggunakan template untuk permudah peserta bercerita?
Berikan alurnya, dalam gambar pesawat dan jendela penumpangnya sebagai isian
kotak-kotak kosong. Atau pohon dengan buahnya sebagai isian temuan ide-ide peserta.

Atau, bagaimana jika temuan perilaku kita bahas di grup fb?

Bisa juga, Anda tunjuk satu peserta di tiap grup sebagai reporter televisi (host program tv) alih-alih hanya sebagai juru bicara mewakili kelompoknya.

Gunakan kreativitas Anda, untuk meningkatkan kesediaan peserta untuk berbagi cerita dan makna.

Begitu ya, teman-teman. Kita sudahi bahasannya di langkah ketiga.

Selamat berlatih.

– Rio Purboyo | Pelatih yg menulis di blog: (bit.ly/bicara)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *